Menumbuhkan Budaya Literasi Siswa SLB Bhakti Pertiwi

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa, Allah SWT, yang telah melimpahkan nikmat dan kasih sayang-Nya kepada kita. Sholawat dan salam tercurah pada Rasulullah SAW.
Membaca buku adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian orang, sedangkan ngobrol juga merupakan hal yang menyenangkan bagi sebagian orang. Membaca dan ngobrol memiliki kesamaan yaitu transfer informasi. Bedanya, jika membaca maka orang memiliki dasar sumber informasi yang jelas dan kuat, sedangkan mengobrol seringkali menghasilkan bias informasi dan distorsi persepsi. Semuanya bagus, karena saling melengkapi. Oleh karenanya tidak heran jika dalam suatu kasus tertentu, bukti tertulis seperti tulisan, email dan sms lebih kuat dibandingkan perkataan saksi, terkecuali jika rekaman otentik.Poin yang menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah menumbuhkan budaya literasi pada anak. Sejak dini, anak diperkenalkan dengan buku-buku. Jika anak sudah mengenal dekat dan akrab dengan buku, maka hal ini merupakan awal yang bagus agar anak memperoleh informasi yang bermanfaat dari buku yang dibacanya. Hal inilah yang dilaksanakan di SLB Bhakti Pertiwi ketika belajar mata pelajaran tertentu. Seperti halnya foto kegiatan yang terlampir dalam tulisan ini yakni pembelajaran bahasa Indonesia kelas VI SDLB C. Standar kompetensi adalah memahami, melaporkan isi buku dan membaca puisi karya sendiri sedangkan Kompetensi Dasar (KD) adalah melaporkan isi buku yang dibaca dengan kalimat sederhana. Wali kelas VI SDLB C, Ibu Yuliati menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksudkan agar anak mampu memahami buku atau majalah yang dibacanya. Indikator anak yang dikatakan memahami adalah ia dapat menceritakan kembali isi buku yang dibacanya.
Lebih jauh lagi, membaca buku/ majalah/ koran/ berita di media elektronik yang terpercaya bertujuan agar nantinya anak mampu mendapatkan informasi yang valid, mengingat pada saat ini arus informasi begitu deras. Di pasar, di sawah, di pos kamling, orang-orang asyik membicarakan informasi A, B, C dst. Jika anak-anak larut dalam topik yang sedang dibicarakan orang-orang di lingkungan sekitar mereka, tanpa mengetahui dari sumber yang valid seperti buku, koran, majalah, dan sebagainya, maka dia akan mengalami persepsi yang kurang pas, bisa salah paham. Nanti jika anak ditanya, maka jawabnya "katanya si A, katanya pak anu, katanya..., katanya... dan katanya". Pernyataan "katanya" menunjukkan budaya literasi masih rendah dan budaya lisan masih tinggi. Jika anak mendapatkan informasi dari buku atau tulisan yang termuat di media, maka anak memiliki gambaran yang kuat, o.... iya itu dimuat di koran A, gambarnya ada di buku B, cara pembuatannya ada di majalah C, dsb dsb. Dengan demikian anak memiliki rasa yang lebih pas ketika mendapatkan informasi/ pengetahuan dari membaca, jika mereka sudah nyaman membaca, maka buku dan media tulisan menjadi prioritas sumber informasi saat diperlukan. Penulis teringat akan kisah Syaikh Al-Albani, beliau naik ke tangga di perpustakaan Dzahiriyah untuk mengambil kitab manuskrip. Beliau mengambil kitab tersebut dan membukanya. Beliau tetap berdiri di atas tangga dan membaca kitab tersebut lebih dari 6 jam. So, yang bisa kita lakukan sebagai guru adalah memberi contoh bagi anak agar senang membaca, dengan cara mengalokasikan beberapa menit untuk membaca buku ditempat-tempat yang dapat terlihat oleh anak. Semoga dengan demikian, budaya literasi semakin tumbuh di sekolah. Alhamdulillah.
(agz)



 
 



 
Share on Google Plus

About SLB Bhakti Pertiwi

SLB Bhakti Pertiwi adalah tempat belajar dan mengembangkan diri bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sekolah ini berada dibawah naungan LP Ma'arif NU DIY dan Dinas Dikpora DIY. Sekolah terletak di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY. Visi sekolah adalah terciptanya ABK yang taqwa, terampil, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan.

0 coment�rios :