Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

Beragam teori pendidikan telah banyak dipelajari, baik oleh kita yang berstatus sebagai guru maupun oleh sebagian orangtua. Teori-teori tersebut berguna untuk pedoman dalam memberikan pelayanan terhadap anak-anak dengan berbagai macam karakteristik. Namun sejatinya, cara mendidik yang paling umum dan sederhana telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau menyampaikan berdasarkan kronologi usia anak dalam tiga tahap berikut:




Pada usia 0 - 7 tahun, posisikan anak sebagai raja. Artinya berikan ia kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi lingkungan. Pada masa ini, kondisi perkembangan otak anak berkembang pesat. Ia berupaya mengambil input sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Peran orangtua adalah mengarahkan dan berusaha menempatkan diri anak pada lingkungan yang positif agar input-input yang masuk adalah positif pula. Yang perlu diingat, jangan mengerdilkan keingintahuan anak dengan membentak, memarahi, dan terlalu banyak melarang. Sebagai contoh, boleh mengajak anak ikut ke masjid. Disana ia bisa mengambil nilai-nilai dengan penglihatannya, pendengarannya, dan naluri kekanak-kanakannya. Jika "gojek", bermain-main, tidak perlu dimarahi. Biarkan ia mengambil nilai sebanyak-banyaknya dari lingkungan sekitar. Bahkan Rasulullah  pun pernah mengajak cucu-cucunya ketika masih balita, dan mereka bermain-main menaiki punggung beliau ketika sedang menjadi imam shalat. Biasa saja. Hal ini akan menjadi bekal bagi perkembangan dan pertumbuhannya pada tahap selanjutnya.

Pada usia 8 - 14 tahun, posisikan anak sebagai tawanan. Pada masa ini, anak sudah dapat belajar tentang tanggung jawab. Berikan ia tanggung jawab sesuai dengan kemampuan masing-masing. Misal: sesekali mencuci piring yang telah ia gunakan untuk makan, merapikan tempat tidur, dan yang paling penting adalah pelaksanaan ibadahnya. Jangan ragu untuk mengatakan salah ketika ia memang berbuat salah. Sesekali memarahi adalah perlu untuk menegaskan tentang kebenaran. Jangan khawatir mental anak akan "down", karena pada rentang usia seperti ini si anak sudah didesain untuk mampu menerima nilai-nilai kedisiplinan. Maka pemberian hukuman dan hadiah cocok untuk mendidik anak pada masa-masa ini. Hal ini diperlukan agar jiwa bertanggungjawab pada anak melekat sebagai bekal perkembangannya nanti. Ia menjadi karang yang tegar diantara deburan ombak. Jiwanya kuat, tidak "ingah-ingih", dan lebih kuat menghadapi tantangan. Maka hendaknya orangtua menepikan rasa kasihan, memanjakan anak, dan sebagainya. Rasulullah pernah berkata "suruhlah anakmu shalat pada usia 7 tahun, dan kalau sampai usia 10 tahun kok masih malas-malasan, pukullah ia". Tentu saja makna "pukul" disini menggambarkan tentang perlakuan tegas, agar anak menjadi disiplin untuk kebaikannya.

Pada usia 15 - 21 tahun, posisikan anak sebagai sahabat. Pada rentang ini, jangan lagi memperlakukan ia keras-keras. Jangan lagi dilarang ini dilarang itu. Ia telah selesai menghadapi pertempuran. Training sudah selesai. Rawatlah luka-luka yang mungkin ada. Rangkullah ia. Ajak berdiskusi, olah pikir, olah rasa, dan besarkan hatinya. Ajak ia bercermin dan suruhlah ia menatap bayangannya di cermin dengan percaya diri. Katakan padanya "engkau adalah anak yang hebat". Kini, ia telah siap menerima nilai-nilai kehidupan menuju kedewasaan. Halangan, rintangan, dan tantangan kehidupan siap ia arungi dengan segenap jiwa dan raga. Dan orangtua adalah partner terbaik didalamnya. Pada masa-masa ini, anakmu adalah sahabatmu. Engkau sangat tahu bagaimana menempatkan diri terhadap seorang sahabat, bukan?

Bapak dan ibu yang budiman, tersebut tadi adalah tiga tahapan dalam mendidik anak. Poin terpenting dalam tulisan ini adalah tentang penerapannya pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Kenyataan menunjukkan bahwa usia kronologis ABK tidak selalu berbanding lurus dengan usia mental. Ada anak yang usianya 17 tahun tetapi mentalnya seperti anak usia 9 tahun, ada anak jenjang SMA tetapi mentalnya seperti anak jenjang SD kelas 2, dan sebagainya. Menghadapi situasi yang demikian, maka perlakukan anak sesuai dengan kondisi usia mentalnya. Untuk mengetahui persis usia mental anak, diperoleh dari hasil asesmen ataupun berdasarkan hasil pemeriksaan oleh ahli tumbuh kembang anak. Sekilas pun dengan naluri (meski tidak selalu akurat), orangtua ataupun guru dapat mengetahui usia mental anak. Misalkan anak SMP kelas 7, guru atau orangtua dengan melihat dan berinteraksi dengan anak maka ia dapat mengatakan "o, anak ini seperti anak SD kelas 1", jadi guru atau orangtua tidak boleh memarahinya, apalagi membentaknya. Berikan ia ruang seluas-luasnya untuk belajar. Begitu juga ketika ada anak SMALB, tetapi usia mentalnya masih seusia SD atau SMP, maka jangan segan memberinya ketegasan, ketika mengingatkan tentang shalat, adab makan dan minum, membuang sampah pada tempatnya, dan lain-lain. Hal ini untuk membentuk jiwa kedisiplinan dan tanggung jawab pada mereka.

Akhirnya, guru dan orangtua adalah yang paling mengerti tentang kondisi anak. Mereka paham harus memperlakukan anak dalam rangka memberikan pendidikan kepadanya. Jika saat-saat tertentu dalam mendidik anak dan juga ABK ini para guru dan orangtua mungkin menemui kebingungan, caranya simpel, cukup tunjukkan bahwa kalian sangat sayang kepadanya. Alhamdulillah
(agz)
Share on Google Plus

About SLB Bhakti Pertiwi

SLB Bhakti Pertiwi adalah tempat belajar dan mengembangkan diri bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sekolah ini berada dibawah naungan LP Ma'arif NU DIY dan Dinas Dikpora DIY. Sekolah terletak di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY. Visi sekolah adalah terciptanya ABK yang taqwa, terampil, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan.

0 coment�rios :