Jaga Akidah Anak melalui Tayangan Televisi

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Sholawat dan salam kepada Rasulullah, rasul yang sempurna.

Tulisan ini dibuat karena pada masa sekarang, marak tayangan-tayangan televisi yang sifatnya kurang bermanfaat bagi anak. Dikatakan kurang bermanfaat karena hal tersebut tidak membawa kebaikan pada diri anak. Televisi menjadi “guru” bagi anak. Banyak anak yang hafal teks-teks iklan, soundtrack-soundtrack sinetron dan hafal tokoh-tokoh film beserta kehidupannya. Memang sekilas hal tersebut menghibur bagi anak, anak menjadi tidak rewel, tidak ‘dolan’, dan menjadikan orangtua tenang karena anak duduk manis di rumah. Namun jika ditelaah lebih lanjut, maka hal tersebut banyak dampak jeleknya bagi anak.

Tidak bermanfaat bagi perkembangan anak

Lagu-lagu iklan, soundtrack sinetron, biografi artis, bahkan kisah kehidupan artis yang terus disorot media. Hal baik dari itu semua adalah anak dapat berfikir, memicu otak untuk menyimpan database baru dan anak mendapat hiburan. Hal jeleknya adalah jika anak-anak sudah hafal lagu iklan, hafal soundtrack sinetron bahkan paham kehidupan artis, maka hal tersebut tidak menjadikan diri anak menjadi lebih rajin dalam kebaikan. Anak tidak bertambah rajin membantu mengerjakan tugas rumah, anak tidak bertambah rajin membantu orangtua, anak tidak bertambah santun ketika berbicara kepada orangtua, dan lain-lain dan lain-lain.

Penulis mengamati beberapa sampel anak-anak yang ada di lingkungan sekitar, termasuk juga beberapa siswa yang ada di sekolah. Pertama, ada anak-anak yang rajin karena memang sudah memiliki pembawaan rajin sejak kecil dan rajin karena didikan orangtua. Sehingga meskipun mereka juga mempunyai kesukaan terhadap tayangan televisi dan iklan, tetapi hal tersebut tidak membawa pengaruh yang signifikan pada dirinya saat ini. Jumlah anak-anak yang rajin itu jauh lebih sedikit dibandingkan anak-anak yang kedua. Siapa anak-anak yang kedua itu? Yaitu anak-anak yang suka melihat sinetron, hafal iklan, lagu dan soundtrack. Anak-anak tersebut cenderung refleks menjawab ketika diajak melakukan kebaikan, misalnya menyapu, piket kelas, mencuci piring dan lain-lain. Cara mereka bersikap terhadap orang yang lebih tua pun terlihat dan terasa berbeda dibandingkan dengan anak-anak yang rajin.

Membahayakan Akidah Anak

Akidah artinya keimanan/ keyakinan. Hal ini menjadi fondasi dasar dalam keagamaan anak, dengan menyembah Tuhan Yang Esa, Allah Subhanahu Wata’ala, dengan penuh kemurnian lahir dan batin, sebagai jalan keselamatan anak di dunia dan akhirat.

Tayangan-tayangan baik sinetron ataupun film banyak yang digemari anak. Namun diantara yang banyak digemari anak tersebut ditunggangi ‘penumpang-penumpang gelap’ yang membahayakan akidah anak. Misalnya adalah sinetron-sinetron dan film, baik tokoh kartun atau tokoh manusia.

Sebagaimana tulisan yang terdahulu yang berjudul Pornografi Anak, anak-anak kesadaran dirinya masih rendah, sehingga ia mengambil apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya dari sekitar dan dianggapnya sebagai sesuatu yang benar. Demikian juga anak-anak ini akidah dan landasan agamanya masih sangat lemah. Mereka belum sepenuhnya bisa membedakan yang benar dan yang salah. Mereka belum sepenuhnya bisa membedakan yang berbahaya dan aman.

Tayangan-tayangan impor seperti kisah kartun tentang dewa-dewa, film-film dan sinetron tentang kegiatan peribadatan agama lain, jika hal ini diulang-ulang, maka akan masuk ke pikiran bawah sadar anak. Sebagaimana kita ketahui bahwa pikiran bawah sadar adalah gudang yang sangat besar dan itulah yang mempengaruhi cara berfikir anak. Bisa dibayangkan, jika anak belum memahami tentang tauhid, mengesakan Allah sebagai satu-satunya Rabb yang berhak disembah, maka ketika ia menerima film-film kartun, sinetron tentang dewa-dewa, anak akan mempunyai mindset bahwa tuhan itu banyak. Ada tuhan yang bentuknya manusia bahkan ada anak tuhan. HAL TERSEBUT SANGAT MEMBAHAYAKAN BAGI KEHIDUPAN ANAK. Meskipun si anak tidak pernah mengucapkannya dan hanya ada dalam benaknya.

Selain berbahaya bagi anak, maka hal tersebut juga merugikan pada orangtua. Mengapa orangtua rugi? Karena orangtua sudah memberikan fasilitas, sudah keluar modal dan uang, tetapi yang didapat adalah hal-hal yang jelek bagi anak. Si anak mendapat asupan racun-racun yang dibumbui dengan hal-hal yang menyenangkan melalui tayangan televisi. Jika hal ini dibahas, maka akan menjadi pembahasan yang panjang. Esensinya adalah sebagian besar tayangan yang disukai anak-anak, yang berupa film kartun atau non kartun impor, hal itu memuat nilai-nilai yang tidak sesuai dengan akidah yang benar.

Barangkali ada yang berpendapat, “Loh itu kan sarat dengan pelajaran budaya, nggak masalah kan.” Memang benar, muatan budaya merupakan perlu diketahui bagi anak, tetapi sebelumnya anak harus memiliki landasan yang kuat dulu sebelum mendapatkan materi tentang budaya dan kepercayaan agama lain. Disinilah peran orangtua, selektif memberikan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan terlebih lagi akhirat. Televisi memang perlu, untuk menyaksikan berita yang ada di sekitar kita. Tetapi penulis yakin, tidak semua anak tidak suka dengan tayangan berita. Mereka lebih suka tayangan-tayangan yang enak, sekalipun hal tersebut berbahaya bagi mereka.

Solusi

Kita tidak bisa serta merta melarang anak menonton tayangan televisi kesukaannya, karena jika dilakukan tiba-tiba, maka secara psikologis anak tidak siap dan bisa memberontak. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan terus menerus belajar tauhid, dengan menumbuhkan keyakinan yang benar dan semakin mengenalkan dengan Allah. Ajari anak dengan sifat-sifat Allah, ajari dengan rukun-rukun iman, dan ajari dengan hal-hal yang dibenci Allah. Sehingga anak semakin kuat imannya dan mengenal Allah dan rasul-Nya.

Ajak anak berdiskusi tentang tayangan yang sedang ditontonnya. Perkenalkan bahwa itu adalah ajaran agama lain. Lakukan tanya jawab dengan anak berkaitan dengan hal-hal yang benar dan hal-hal yang salah, sehingga mindsetnya tentang tauhid semakin kuat.

Jika memang sebelumnya anak-anak belum pernah melihat film-film atau tayangan sinetron, maka hal tersebut lebih baik baginya. Ketiadaan televisi di rumah adalah lebih baik bagi anak, sehingga orangtua bisa menyediakan buku-buku anak yang menarik dan bermanfaat sambil memperdengarkan lantunan ayat-ayat Al Quran kepada anak. Perkenalkan dengan permainan-permainan yang mengasah fisik dan pikiran, sehingga energi anak dapat tersalurkan. Hal ini baik untuk perkembangan jiwa dan raganya. Insyaallah hal tersebut lebih menyelamatkan anak.

Penutup

Penulis mengajak pembaca sekalian, dan juga orangtua pada khususnya agar menyadari dibalik tayangan televisi. Tayangan-tayangan yang selama ini kita anggap biasa dan baik-baik saja, tetapi ada bahaya dibalik itu semua jika kita mengetahuinya. Ibarat pepatah, “tak kenal maka tak sayang” demikian pula dengan tayangan-tayangan yang berbahaya tersebut, berlaku pepatah “tak kenal maka tak benci”.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada pembaca sekalian, dan juga pada penulis, sehingga kita semakin diberikan penglihatan yang jeli untuk memandang hal-hal yang menyelamatkan kita di dunia dan terlebih lagi di akhirat. Aamiin.
(agz)

Sumber Gambar:
- Oketekno.com
- http://maxpixel.freegreatpicture.com/
- Pribadi
Share on Google Plus

About SLB Bhakti Pertiwi

SLB Bhakti Pertiwi adalah tempat belajar dan mengembangkan diri bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sekolah ini berada dibawah naungan LP Ma'arif NU DIY dan Dinas Dikpora DIY. Sekolah terletak di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY. Visi sekolah adalah terciptanya ABK yang taqwa, terampil, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan.

0 coment�rios :