Sampai Jumpa Kembali, Mas Raka.

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan karunia dan nikmatNya kepada kita semua. Tentunya yang kita syukuri bukan hanya nikmat materi, tetapi juga nikmat keimanan di dalam hati. Shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah SAW.

Anak didik adalah amanah yang dititipkan dari orangtua kepada sekolah untuk menerima pendidikan dan pengajaran. Setelah mendapatkan hak pendidikan dan pengajaran, selanjutnya anak didik akan dijemput kembali oleh orangtua untuk kembali ke rumah masing-masing. Hal ini dilakukan karena sejatinya anak didik bukan milik sekolah melainkan milik orangtua. Mengapa penulis mengambil ilustrasi tersebut? Jawabannya adalah karena sejatinya kita semua adalah milik Sang Khalik, yang juga akan kembali kepadaNya ketika usia di dunia telah purna.

Pada hari ini, Jumat, 14 Oktober 2016, SLB Bhakti Pertiwi berkurang 1 siswa, tetapi bukan karena drop out, bukan karena pindah keluar kota, dan bukan karena pindah ke sekolah lain, tetapi karena telah dipanggil Allah SWT untuk meninggalkan dunia ini selamanya. Raka Dafa Setiawan, 15 tahun, autis, adalah salah satu siswa yang meninggalkan kenangan tersendiri di ingatan bapak/ibu guru dan teman-teman lainnya. Ananda hampir tidak pernah mengeluh ketika belajar di sekolah, dia sangat aktif terutama ketika pelajaran muatan lokal dan ekstrakurikuler menari. Awal ketika masuk di sekolah adalah, ananda sering menghabiskan minum guru-guru di kantor, menghabiskan minum kepala sekolah ketika jam istirahat. Hal tersebut berlangsung cukup lama hingga ananda kelas III. Namun setelah sedikit demi sedikit dibimbing oleh guru, maka ananda berubah dengan selalu meminta ijin ketika ingin minum. Hal yang membekas di ingatan penulis adalah ketika setiap pagi ananda melihat penulis, maka ananda lari menghampiri kemudian mengulurkan tangan memberi salam "selamat pagi Pak Agus, selamat pagi Mas Raka, Toss, Jempol". 

Guru-guru mengadakan apel pagi bersama para siswa usai sholat dhuha. Guru menyampaikan sedikit ingatan kepada para siswa, bahwa syarat untuk meninggal tidak harus menunggu tua, oleh karena itu guru mengajak kepada semua siswa untuk selalu meningkatkan dan memperbaiki kualitas amal sehingga dengan hal tersebut semoga menjadi bekal terbaik menghadapi panjangnya perjalanan pasca kematian. Akhir tulisan, semoga Allah mempersatukan kita semua, guru-guru SLB bersama para siswa kelak di akhirat dalam kondisi yang baik. Seandainya ternyata karena ketetapan Allah kita tidak bertemu, semoga saling mencari. Aamiin.
(agz)
Share on Google Plus

About SLB Bhakti Pertiwi

SLB Bhakti Pertiwi adalah tempat belajar dan mengembangkan diri bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sekolah ini berada dibawah naungan LP Ma'arif NU DIY dan Dinas Dikpora DIY. Sekolah terletak di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY. Visi sekolah adalah terciptanya ABK yang taqwa, terampil, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan.

0 coment�rios :