Sholat Istisqa' SLB Bhakti Pertiwi

Anak-anak berdoa meminta hujan
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahaesa, Allah SWT, yang telah memberi karunia kepada kita semua umat-Nya. Sholawat serta salam kepada Nabi dan Utusan Tuhan, Muhammad SAW.
Masih teringat akan materi pelajaran saat SD dahulu bahwa Indonesia memiliki 2 musim, penghujan dan kemarau. Musim kemarau terjadi pada bulan April - Oktober, dan musim penghujan trjadi pada bulan Oktober - April. Saat ini sudah di penghujung Oktober, tetapi hujan belum juga turun. Beberapa tempat seperti di Bokoharjo Prambanan Sleman, cadangan air tanah telah menipis dan bahkan di beberapa padukuhan sudah habis. Untuk mendapatkan air, penduduk harus membelinya dari pedagang air yang ada di desa sebelah. Itu pun air sebatas digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan untuk kebutuhan pengairan sawah, sebagian penduduk juga membeli lagi air tangki.

Belajar dari pengalaman faktual tersebut, SLB Bhakti Pertiwi melaksanakan ibadah sholat istisqa' atau sholat untuk meminta hujan pada Allah SWT. Anak dan guru telah menyiapkan tempat dan peralatan pada pukul 07.00 WIB. Acara dilaksanakan di halaman unit 1. Sebelum sholat dilaksanakan, anak diberikan penjelasan oleh Bapak Agus Tri Yuniawan, S.Pd.I. tentang maksud dan tujuan dilaksanakan sholat ini. Selanjutnya sholat dilaksanakan dengan dipimpin imam Bapak Drs. Sonhaji. Setelah 2 rekaat selesai, dilanjutkan khutbah dan doa bersama.
Yang menarik dari acara ini adalah saat di kelas ada anak yang berkata, namanya Bella, terjadi dialog dengan penulis
Bella    : "Pak kok sholat minta hujan segala, aneh, kaya' orang India saja.",
Penulis :"Bella pernah ke India?",
Bella    : "Belum pak, di filem Krishna itu lo, ada upacara minta hujan juga".
Setelah itu, penulis menyampaikan cerita tentang suku pedalaman yang juga meminta hujan melalui ritualnya sendiri, ibadah penganut agama Hindu yang juga meminta hujan kepada Tuhannya. Setiap umat memiliki caranya sendiri dalam meminta hujan. Selanjutnya penulis bertanya kembali kepada Bella,
Penulis : "Bella, upacara yang dilakukan suku pedalaman tersebut, dan juga yang dilakukan umat agama lain tersebut menurutmu aneh tidak".
Bella    : "Ya aneh lah pak, masak upacaranya begitu pakai nari-nari juga".
Penulis : "Nah Bella, meski dirimu berkata bahwa itu aneh, tetapi bagi mereka itu tidak aneh, itu sarana mereka menyampaikan maksudnya kepada Tuhannya. Bella mengatakan aneh karena baru pertama kali melaksanakan. Sholat istisqa itu baik, karena dicontohkan oleh Nabi kita. Seperti Bella sekarang pakai gelang bunga besar ini (sambil menunjuk gelang bunga yang dikenakan Bella), Bella baru pertama kali memakai ini, menurut mas Ardi, bagaimana menurutmu mas?".
Ardi     : "Ya nggak biasanya pak, biasanya kan Bella tidak memakai gelang, jadi beda saja"
Penulis : "Nah Bella, seperti itu nak, terlihat aneh karena dirimu baru melaksanakan sholat istisqa kali ini, tetapi ini adalah hal yang biasa dan bisa dilakukan oleh kita sebagai umat Islam".
Bella    : "Oh, begitu ya pak, ya..ya..".
Penulis : "Baik Bella, setelah dirimu mendengar penjelasan bapak tadi, apakah sholat istisqa masih aneh menurutmu?".
Bella    : "Tidak pak".
Itulah sepenggal kisah tentang kegiatan yang dilaksanakan siswa dan guru di SLB Bhakti Pertiwi pagi ini. Berkaca pada kisah Bella tadi, yang barangkali mewakili teman-temannya, maka setelah melaksanakan sholat istisqa secara langsung ini maka anak mengalami pergeseran kognisi, mendapatkan pengalaman baru, sehingga mengenal "o...seperti ini ya sholat istisqa", yang awalnya menganggap aneh, tidak biasa, maka sekarang sudah mengenal.
Note: Sedikit penulis sampaikan sholat istisqa' ini, penulis pernah membaca dalam sebuah artikel bahwa jika ditinjau dari sisi sains, dari kajian Fisika kuantum, materi terkecil di alam semesta ini adalah quark atau kuantum. Kuantum adalah materi dasar yang jauh lebih halus dari atom dan ini berupa gelombang yang tidak terlihat. Gelombang ini disebut vibrasi, yang memiliki frekwensi masing-masing. Perilaku vibrasi ini dipengaruhi oleh niat kita, pikiran kita. Ketika sekumpulan orang berkumpul, lalu memanjatkan maksud kepada Tuhan, maka sekumpulan orang tersebut memancarkan vibrasi/gelombang pikiran yang sama. Gelombang tersebut memancar ke alam sekitar dan bisa mempengaruhi angin, udara, awan dlsb sesuai yang difokuskan. Semakin banyak orang yang memancarkan vibrasi yang sama, maka efek yang dihasilkan semakin besar. Peristiwa yang sama adalah ketika kita suatu ketika ingin makan mangga misalnya, pengiin banget, e, tiba-tiba ada teman berkunjung dan membawa mangga. Itu semua adalah karena vibrasi/ gelombang pikiran yang kita pancarkan dan direspon oleh teman tersebut. Jadi bukan sesuatu yang kebetulan. Seperti halnya sholat istisqa ini, vibrasi/gelombang pikiran yang dipancarkan akan direspon alam semesta sekitar. Sehingga perilaku angin, awan hujan, dapat berubah seperti yang diniatkan. Itu semua adalah peristiwa vibrasi. Dengan mengetahui tentang gelombang pikiran/vibrasi tersebut, kita akan lebih sadar, lebih mawas terhadap pikiran, niat dan perasaan kita. Maka rasionallah jika Nabi berkata bahwa segala sesuatu itu tergantung niatnya. Dengan niat, maka perasaan kita akan fokus pada apa yang kita niatkan tersebut, dan itu akan menghasilkan kenyataan. Karena rasa yang kita pancarkan, itulah doa kita sesungguhnya.
Yang...hujan turun lagi.... hehehe.. (agz)

Anak berdiri bersiap akan sholat

Khutbah oleh Drs. Sonhaji

Anak mendengarkan penjelasan
Share on Google Plus

About SLB Bhakti Pertiwi

SLB Bhakti Pertiwi adalah tempat belajar dan mengembangkan diri bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sekolah ini berada dibawah naungan LP Ma'arif NU DIY dan Dinas Dikpora DIY. Sekolah terletak di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY. Visi sekolah adalah terciptanya ABK yang taqwa, terampil, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan.

0 coment�rios :